Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia

image (48)

Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia diperingati setiap tanggal 24 Maret setiap tahunnya bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa TBC sampai saat ini masih menjadi epidemi di dunia, termasuk di Indonesia. Tema yang diusung pada Hari TBC Sedunia tahun ini, yakni “Peduli TBC, Indonesia Sehat” bermaksud untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta seluruh pemangku kebijakan dan masyarakat dalam mendukung Eliminasi TB di Indonesia serta menempatkan TBC sebagai isu penting di semua sektor pembangunan.

Dalam hal ini RSUD Kardinah selaku fasilitator pelayanan kesehatan di lingkup wilayah kota Tegal ikut berperan aktif mendukung gerakan Bersatu Menuju Indonesia Bebas TB 2050. Hal ini sejalan dengan tema global Hari Tuberkulosis Sedunia tahun ini yaitu “Wanted: Leaders for a TB-free world. You can make history. End TB”. Berdasarkan laporan WHO 2017 diperkirakan ada 1.020.000 kasus di Indonesia, namun belum separuhnya terlaporkan ke Kementerian Kesehatan. Karena itu, gerakan Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS) TBC sangat dibutuhkan, perlu dipahami dan dilakukan oleh seluruh masyarakat.

“Fokus pencegahan dan pengendalian TBC adalah penemuan kasus dan pengobatan. Tolong temukan penderita TBC, diobati sebaik-baiknya. Sampai sembuh, betul-betul harus sampai sembuh agar terhindar dari resistensi”, tutur Menteri Kesehatan RI, Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, pada puncak peringatan Hari TBC Sedunia di Monas, Sabtu pagi (24/). Maka dari itu, salah satu rangkaian peringatan Hari TBC Sedunia tahun ini merupakan kegiatan penemuan aktif di lapangan, dimana kader dan petugas di 34 Provinsi sejak minggu I hingga III Maret 2018, telah melakukan upaya Ketuk Pintu (mendatangi langsung ke rumah-rumah) untuk melakukan pemeriksaan gejala TBC dari kontak pasien.

Dari kegiatan tersebut ditemukan 20.909 terduga TBC dan 1.857 di antaranya terbukti TBC. Ini merupakan salah satu kerja sama nyata masyarakat dan petugas dalam menemukan kasus TBC. Menurut Menkes, kegiatan deteksi dini ini selaras dengan semangat gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS). Gerakan ini perlu menjadi suatu kegiatan terpadu dan memperkuat program Indonesia sehat melalui pendekatan keluarga (PIS-PK). Pada peringatan Hari TBC Sedunia tahun ini di Monumen Nasional Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, mengapresiasi Deklarasi Komitmen PKK seluruh Indonesia dalam Pencegahan TBC yang dibacakan oleh Ketua Umum Tim Penggerak PKK Erni Guntarti Tjahjo Kumolo.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan teleconference antara Menkes Nila Moeloek dengan Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Papua,  terkait upaya dan komitmen serta inovasi untuk Program Penanggulangan TBC dari para Bupati Kabupaten terpilih. 

Menkes Nila Moeloek, didampingi Ketua Penggerak PKK Pusat, Deputi Bidang Kesehatan Kemenko PMK dan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes juga menyerahkan beberapa penghargaan, antara lain kepada Dinas Kesehatan dan Rumahsakit serta Puskesmas yang telah berinovasi dan pelayanan terbaik dalam bidang ini.

Pada momen yang sama, Deputi Bidang Kesehatan Kemenko PMK, Sigit Priyohutomo menyerahkan 15 alat monitoring pengobatan TBC resisten obat (RO) berupa mesin audiometri dan EKG kepada RS milik Pemerintah.

Penyerahan mesin yang merupakan bantuan dari dunia usaha dan swasta ini dilatarbelakangi oleh beban TBC RO yang semakin tinggi di Indonesia. Selain itu juga Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Anung Sugihantono, menyerahkan penghargaan kepada para pemenang dari lomba film pendek dan _vlog_ tentang TBC. Sementara itu, pemenang Lomba Film Pendek tentang Tuberkulosis berjudul JAS (Jangan Anggap Sepele) karya para siswa SMA Taruna Bakti Papua. Pemenang kedua dan ketiga berturut-turut diraih oleh film berjudul “Gagal Karena Kelalaian” karya siswa SMAN 1 Jayapura Papua, dan film berjudul “Best Friend Kulosis” karya siswa dari SMA N 2 Medan.

Semua kegiatan di atas dimaksudkan untuk menumbuhkan kepedulian semua pihak bahwa masalah TBC bukan merupakan isu pada sektor kesehatan saja. Para penentu kebijakan, lintas sektor terkait, masyarakat termasuk dunia usaha mempunyai peran dan kontribusi yang penting dalam pencapaian Eliminasi TBC di tahun 2030.