Sering Baca Berita Buruk Bisa Berbahaya untuk Kesehatan

image (48)

Klikdokter.com, Jakarta Saat menonton televisi hingga terhubung ke internet, tak jarang Anda melihat berita buruk tentang berbagai macam kejadian. Tak sedikit yang Anda abaikan, namun banyak pula berita yang Anda simak, baik karena penasaran atau terpancing untuk menyaksikan.

Pada setiap pemberitaan berita terbaru, kondisi jagat raya digambarkan seolah selalu berada pada taraf krisis. Anda pun bisa sangat terpengaruh dengan kejadian buruk di suatu tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari Anda.

Dengan lonjakan teknologi, media sosial, dan siklus berita 24 jam, paparan terhadap peristiwa traumatis telah meningkat pesat selama beberapa dekade terakhir. Menurut survei yang dilakukan oleh Pew pada tahun 2015, 65 persen orang dewasa sekarang menggunakan situs jejaring sosial dan hampir sebagian dari mereka mengonsumsi berita buruk.

Lantas, apa yang akan terjadi saat Anda terlalu banyak membaca berita buruk? Lalu bagaimana bisa hal tersebut memengaruhi kesehatan hingga picu penyakit?

Respons tubuh saat membaca berita buruk

Dilansir CNN, otak Anda sebenarnya sudah terprogram untuk memproses stres yang berkaitan dengan trauma. Bahkan dalam kondisi yang normal, otak Anda memiliki respons penolakan dampak negatif dari sebuah kabar buruk.

Meski begitu, paparan yang terus-menerus terhadap trauma dapat menggagalkan kemampuan Anda untuk mengatasi stres dengan baik dan menghambat diri untuk kembali ke keadaan rileks. Hal ini disampaikan oleh Susanne Babbel, seorang psikoterapis spesialis pemulihan trauma.

"Setiap kali kita mengalami atau mendengar peristiwa traumatis, kita masuk ke mode stres. Kita mungkin mati rasa atau memiliki respons ketakutan yang terlalu aktif terhadap ancaman yang dirasakan. Fisiologi kita dipicu untuk melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin," kata Babbel.

Idealnya, setelah ancaman yang dirasakan teratasi, tubuh akan tenang kembali. Namun, paparan berulang terhadap peristiwa traumatis yang sama atau lebih besar dari sebelumnya, dapat mengganggu pemulihan yang seharusnya tenang itu.

"Seiring waktu, ketika kita mengalami proses ini lagi dan lagi, kelenjar adrenal kita bisa menjadi lelah. Kelelahan adrenal dapat menyebabkan rasa lelah di pagi hari, kurang tidur nyenyak, kecemasan dan depresi, serta banyak gejala lainnya," Kata Babbel.

Pada taraf lanjut, terlalu sering mendengar berita buruk juga membuat Anda kurang peduli, lebih apatis dan merasa berkurangnya urgensi tentang krisis yang dihadapi.

"Salah satu cara mengatasi paparan terus-menerus ini adalah tidak terlalu terbebani dengan berita buruk ini dan berlarut-larut. Setiap orang memiliki batas yang berbeda, dan Anda harus mencari tahu apa batas Anda," jelas Babbel.

Mengatasi berita buruk di Media

Menetapkan batas pada seberapa banyak Anda melihat berita atau membuka media sosial, dapat menciptakan ruang dan waktu untuk menenangkan respons stres sistem saraf. Contohnya dengan mematikan notifikasi di ponsel hingga mengurangi konsumsi berita buruk.

"Hal terpenting adalah memperhatikan diri sendiri ketika sudah kelebihan beban, ketika Anda mulai merasa tertekan, ketika Anda merasa mati rasa, murung, kesal atau gejala lain dari respons sistem saraf. Setiap kali Anda merasa jenuh, itu adalah sinyal bahwa Anda harus berhenti sejenak dari mengonsumsi segala informasi," kata Babbel.

Saat berita buruk sudah menimbulkan gangguan seperti stres, berdasarkan pemaparan dr. Alvin Nursalim dari KlikDokter, Anda dapat menerapkan cara di bawah ini:

  • Jangan simpan sendiri. Jika sedang memiliki masalah, ceritakan kepada orang terdekat Anda. Berbagi adalah salah satu cara mengurangi stres yang paling mudah.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Membantu orang lain juga dapat mengurangi rasa stres. Jangan takut untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial di sekitar. Dengan demikian, Anda dapat membantu diri sendiri dalam menangani stres, serta membantu orang lain.
  • Meditasi dan yoga. Berbagai teknik pernapasan, diiringi suasana yang nyaman dan mendukung, dapat membantu Anda menjadi rileks.Sering membaca dan mendengar berita buruk dapat memicu penyakit, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan mental. Hal yang harus Anda lakukan adalah membatasi diri dalam mengonsumsi berita-berita buruk. Jika Anda terpapar setiap hari terus-menerus, tak dimungkiri akan muncul rasa tertekan hingga stres.

[RS/ RVS]