Apa dan bagaimana dengan sistem rujukan online BPJS

image (48)

Penerapan uji coba rujukan online yang telah berlangsung sejak 15 Agustus 2018, telah berdampak pada distribusi pasien rujukan tingkat lanjut di rumah-rumah sakit sesuai dengan kelasnya. Namun untuk lebih menyempurnakan sistem ini, penerapan uji coba rujukan online rencananya  akan diperpanjang sampai dengan 31 Oktober 2018, dengan tujuan untuk lebih menguatkan keterlibatan dan sinergi dengan Dinas Kesehatan dan asosiasi fasilitas kesehatan dalam melakukan review mapping dan validasi kapasitas FKRTL, serta optimalisasi bridging system.

Menurut Deputi Direksi Bidang Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Arief Syaefuddin dalam acara Ngopi Bareng JKN bertema Digitalisasi Layanan dengan Sistem Rujukan Online di Jakarta, bahwa sistem rujukan online sebetulnya sudah dipersiapkan sejak lama. Namun implementasinya sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur masing-masing fasilitas kesehatan. Untuk mengimbangi kebutuhan masyarakat di era digital kini, fasilitas kesehatan harus beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi rujukan online,”

Menurutnya, sistem rujukan online merupakan digitalisasi proses rujukan berjenjang diharapkan untuk kemudahan dan kepastian peserta dalam memperoleh layanan di rumah sakit disesuaikan dengan kompetensi, jarak dan kapasitas rumah sakit tujuan rujukan berdasarkan kebutuhan medis pasien. Diharapkan sistem rujukan online ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan administrasi di fasilitas kesehatan. Nilai plusnya, rujukan online bersifat real time dari FKTP ke FKRTL, serta menggunakan digital documentation. Data dari P-Care di FKTP langsung terkoneksi ke FKRTL sehingga memudahkan analisis data calon pasien. Selain itu, dengan sistem rujukan online dapat berpotensi untuk paperless, jadi meminimalisir kemungkinan kendala yang terjadi akibat pasien lupa membawa surat rujukan.

Dalam hal ini Asisten Deputi Direksi Bidang Pengelolaan Fasilitas Kesehatan Rujukan BPJS Kesehatan Beno Herman menegaskan, sistem rujukan online juga tidak menutup kesempatan bagi peserta JKN-KIS untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit tujuan rujukan kelas B dan kelas A selama sesuai dengan kebutuhan medisnya. Adapun rujukan kasus-kasus tertentu yang kompetensinya hanya dimiliki oleh rumah sakit kelas B, bisa langsung dirujuk dari FKTP ke rumah sakit kelas B.

 “Untuk pasien JKN-KIS dengan kasus-kasus rujukan dengan kondisi khusus antara lain gagal ginjal (hemodialisa), hemofilia, thalassemia, kemoterapi, radioterapi, jiwa, kusta, TB-MDR, dan HIV-ODHA dapat langsung mengunjungi rumah sakit kelas manapun berdasarkan riwayat pelayanan sebelumnya selama ini,” tambah Beno.

 Namun terlepas dari tujuan tersebut diatas dengan adanya kebijakan rujukan online berjenjang itu sendiri jika ingin jujur RSUD yang hampir semuanya kelas B dipastikan akan sepi pasien karena semua pasien harus ditangani oleh rumah sakit kelas D atau C sebelum dirujuk ke rumah sakit kelas B. Rumah sakit kelas D atau C pun jika ingin merujuk harus dengan syarat 80 persen pelayanan terisi baru bisa dirujuk ke rumah sakit kelas B.

Dari ujicoba rujukan online pada bulan September 2018 juga masih menyisakan persoalan, seperti contoh dari data FKTP, FKTL, dan dokter yaitu jadwal praktik dokter tidak cocok, ada KTP yang menggunakan rujukan manual karena sistemnya belum siap, hingga FKTL yang tidak terdaftar di sistem.
Akibatnya, tak sedikit pasien harus pulang karena FKTL rujukannya belum terdata dalam Health Facilities Information System (HFIS) milik BPJS. Atau, pasien harus terima berobat sebagai pasien umum di hari itu juga. Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Ilham Oetama Marsis menyebut sistem ini salah terapan. “Tujuannya bagus, tapi sistem kita belum siap benar, maka timbul kekacauan,” katanya. Marsis mengungkap tak tepat ketika sistem rujukan dibuat oleh FKTL. Pasien akan rentan salah diagnosis yang berujung pada salah rujukan. Idealnya, rujukan subspesialis dibuat oleh dokter spesialis yang biasa praktik di FKTL.

Karena masih dalam tahap uji coba sistem rujukan online, mari kita doakan saja ya. Semoga Hasil Uji Coba Sistem Rujukan Online BPJS Kesehatan ini berjalan lancar dengan hasil yang jauh lebih baik dari yang diharapkan sehingga peserta JKN – KIS BPJS Kesehatan semakin dimudahkan dalam mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkan. Sementara bagi Faskes pun tidak ada yang dirugikan dengan sistem ini, dalam artian perlu adanya kebijakan baru dalam upaya merumuskan pemerataan distribusi pasien rujukan tingkat lanjut di rumah-rumah sakit sesuai dengan kelasnya.